Minggu, 01 April 2012

KETIKA MULUT TERKUNCI


“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”
(QS. Yaasiin[36]: 65).
Ingatkah Anda bahwa kala Padang Mahsyar mulai dihampar dan amal-amal mulai diperhitungkan (hisab), tidak akan pernah ada lagi udzur, alasan, hujjah, atau alibi yang bisa disangkalkan? Mulut kita terbungkam karena dikunci oleh-Nya. Kepala menunduk menahan malu. Hati hancur lebur menanggung sesal, akal pikiran bingung tak keruan menyaksikan segala perbuatan diri selama di dunia tiba-tiba terbentang lebar bak cermin di hadapan kita. Lalu kaki, tangan, dan seluruh anggota tubuh kita satu per satu memberikan kesaksian atas segala tingkah laku kita. Tidak ada satu perbuatan pun yang tak terungkap dan terbukti, bahkan kendati itu hanya sebesar biji sawi (dzarrah).
Lalu, ingatkah pula Anda bahwa setiap jejak langkah yang pernah ditorehkan di bumi ini akan menjadi saksi otentik di kala Hari Perhitungan itu. Bagian-bagian bumi yang dulunya kita lihat diam membisu, tiba-tiba saja pandai berucap kata dan memberikan kesaksian atas tindak-tanduk setiap manusia yang pernah hidup di permukaannya.
Subhanallah…! Sebagai muslim dan muslimah yang bertauhid atas kehidupan akhirat, seharusnya kita senantiasa ingat masa depan hakiki itu. Tapi, nyatanya kita mudah lalai oleh gemerlap harta duniawi. Kita lebih banyak khilaf atas maha beratnya perhitungan Padang Mahsyar itu dan betapa telitinya administrasi pencatatan amal kita. Kita cenderung remeh bahwa mata, telinga, mulut, dan anggota tubuh ini senantiasa melihat dan merasakan segala apa yang kita kerjakan. Kita cenderung tutup mata atas kesaksian sejati semilir angin, riak-riak air, dan kesejukan bumi yang kita injak dan diami ini, yang selalu merekam segala perbuatan kita.
Maka, memang seharusnya kita segera memperbaiki segala tindak-tanduk kita, kehalalan makanan dan minuman kita, kebersihan hati dan pikiran kita, agar koleksi amal kebaikan kita lebih banyak dibandingkan amal keburukan kita dan kekuatan pahala meluruhkan angkara dosa kita. Mumpung kita belum benar-benar berdiri gemetar di hamparan Padang Mahsyar yang maha menakutkan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar